Berusia 492 Tahun, Berikut Asal Usul 30 Nama Jalan di Jakarta

Ogahdiem.com | Tahun 2019 ini, Jakarta genap berusia 492 tahun. Sebuah kota terbilang tua karena telah melewati beberapa fase sejarah cukup panjang mulai dari perebutan kekuasaan antar kerajaan di nusantara, dijajah oleh bangsa-bangsa asing hingga menduduki “kasta” tertinggi dari sebuah provinsi, yakni dinobatkan sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejarah Singkat Jakarta
Jakarta mengawali sejarahnya sekitar abad ke-14. Kala itu Jakarta bernama Sunda Kelapa yang berada di bawah Kerajaan Sunda yang berpusat di Padjajaran. Ketika bangsa Portugis datang ke Indonesia, mereka menjadikan Sunda Kelapa sebagai tujuan utama untuk berdagang. Tanggal 22 Juni 1527, Fatahillah yang dikirim oleh Kerajaan Demak, sukses menaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa. Oleh Fatahillah Sunda Kelapa diberi nama menjadi Jayakarta, Djajakarta, atau Jacatra. Tanggal itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Ulang Tahun atau HUT Kota Jakarta.

Singkat cerita, tahun 1619, saat VOC(Belanda) berkuasa, nama Jayakarta diganti menjadi Batavia hingga ± 350 tahun lamanya. Akhirnya, Belanda takluk kepada Jepang (1942), kemudian Batavia diganti nama menjadi Jakarta.

Setelah kemerdekaan, pada 18 Januari 1958, nama Jakarta berubah menjadi Kota Praja Djakarta Raya. Lewat PP No. 2 tahun 1961 menjadi Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Jakarta memperoleh nama resmi menjadi Ibukota NKRI pada 1966.

Saat masa reformasi tahun 1999, melalui UU No.24 tahun 1999, sebutan Pemerintah Daerah berubah menjadi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Pemprov DKI Jakarta) yang dibagi menjadi 6 wilayah yakni 5 wilayah kotamadya, terdiri dari Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara serta satu wilayah kabupaten administratif, Kepulauan Seribu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700) dengan otonominya tetap berada ditingkat provinsi, yakni Pemprov DKI Jakarta.

Asal Usul Sejumlah Nama Jalan di Jakarta
Kini, Jakarta menjelma menjadi kota yang maju dan modern dengan segala aspek dan dinamikanya, baik sosial, ekonomi, budaya dan lainnya. Tanpa mengurangi kesibukan saat beraktivitas di Jakarta serta menambah wawasan Anda, berikut kami (Ogahdiem.com) sajikan informasi seputar asal usul sejumlah nama jalan di DKI Jakarta yang kami kutip dari berbagai sumber terpercaya. Berikut ulasannya.

  1. Glodok, asal mulanya dari kata Grojok yakni sebutan dari bunyi air yang jatuh pada pancuran air yang dahulu kala ada semacam waduk penampungan air Kali Ciliwung. Orang Tionghoa dan keturunannya menyebut Grojok dengan Glodok. Karena Orang Tionghoa sulit mengucapkan kata Grojok seperti layaknya Orang Pribumi.
  2. Kwitang, dahulu di wilayah itu sebagian besar tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah kaya raya bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai Kampung Si Kwi Tang dan akhirnya dinamai Kwitang.
  3. Senayan, konon ceritanya tanah di daerah Senayan dimiliki seorang bernama Wangsanayan asal Bali. Tanah tersebut disebut Orang-orang dengan sebutan Wangsanayan yang berarti Tanah tempat tinggal atau Tanah milik Wangsanayan. Lambat laun orang menyingkat nama Wangsanayan menjadi Senayan.
  4. Menteng, asal usul daerah Menteng Jakarta Pusat adalah kawasan hutan yang dipenuhi pohon dan buah Menteng, karenanya orang menyebut wilayah tersebut dengan nama Kampung Menteng. Tahun 1921, tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda sebagai lokasi perumahan Pegawai Pemerintah Hindia Belanda, maka daerah itu di sebut Menteng.
  5. Matraman, nama jalan Matraman erat kaitannya dengan penyerangan kerajaan Mataram pada tahun 1629 yang dipimpin oleh Sultan Agung ke wilayah Batavia yang dikuasai Belanda. Karena Sultan Agung dari Mataram, maka tempat itu dikenal dengan Mataraman, lambat laun sebutan itu menjadi Matraman.
  6. Karet Tengsin, dahulu kala kawasan ini merupakan perkebunan karet milik saudagar etnis Tionghoa bernama Tieng Shin. Karena orang pribumi sulit mengucapkannya, maka disebut Tengsin.
  7. Tanah Abang, konon asal usul nama jalan Tanah Abang karena adanya peristiwa berdarah, dimana pada tahun 1740 terjadi pembunuhan massal pasukan Belanda terhadap penduduk etnis Tionghoa yang mendiami kota Batavia. Kabarnya, 10.000 nyawa melayang. Pembantaian dipicu karena ketidaksukan Belanda melihat etnis Tionghoa kaya dan makmur. Padahal, saat itu etnis Tionghoa memang dikenal sebagai suku yang pandai berdagang. Lokasi pembunuhan etnis Tionghoa ini disebut dengan Tanah Abang. Nama Tanah Abang di adopsi dari Bahasa Jawa yang artinya tanah merah. Disebut tanah merah karena banyaknya orang yang dibunuh sehingga tanah penuh akan darah berwarna merah.
  8. Kuningan, konon ceritanya adalah tempat menetapnya seorang pangeran dari Cirebon bernama Pangeran Koeningan.
  9. Buncit, dahulu kala di kawasan itu ada seorang pedagang kelontong etnis Tionghoa berperut gendut (buncit) yang sangat terkenal. Lama kelamaan sebutan buncit dijadikan nama yakni Jalan Buncit Raya.
  10. Bangka, asal usul jalan Bangka akibat banyak ditemukannya mayat-mayat orang yang sudah menjadi bangke atau bangkai yang dibuang ke Kali Krukut.
  11. Tegal Parang, asal usulnya karena di daerah itu dahulunya banyak ditemukan alang-alang tinggi (Tegalan) yang dipotong dengan parang (Golok).
  12. Blok A/M/S , tiga nama jalan yang terkenal di daerah Jakarta Selatan ini dahulunya adalah tempat dibukanya perumahan baru sistem blok mulai dari blok A sampai S. Namun, sayangnya yang tersisa hanya tiga blok saja.
  13. Pasar Rumput, nama jalan ini mulanya merupakan tempat berkumpulnya para penjual rumput untuk kalangan Meneer Belanda yang tinggal di Kampung Elit Menteng.
  14. Kalimalang , asal usul dinamai Jalan Kalimalang yakni saat pasukan Kerajaan Mataram menyerang Batavia di tahun 1628 lalu menemukan sungai yang bukan mengarah ke laut atau ke utara melainkan kearah Barat (silang atau malang), sehingga disebut dengan Kalimalang. Dalam bahasa Jawa arti kali adalah sungai, sedangkan malang adalah melintang.
  15. Lebak Bulus, disebut Jalan Lebak Bulus karena dahulu kala tempat tersebut dijadikan pusat penjual penyu atau kura-kura yang di jajakan di kolam-kolam. Lebak artinya kolam, sedangkan Bulus artinya Penyu atau Kura-kura.
  16. Pasar Senen, Pasar Senen pertama kali di bangun oleh Justinus Vinck tahun 1766. Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan Vinckpasser (Pasar Vinck). Karena dibukan setiap hari Senin, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen (disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang pribumi yang lebih sering menyebut Senen ketimbang Senin). Namun seiring kemajuan dan pasar Senen semakin Ramai, maka sejak Tahun 1766 pasar ini pun buka pada hari-hari lain.
  17. Kebayoran, kata Kebayoran berasal dari kata Kebayuran yang artinya tempat penimbunan kayu bayur. Saat itu, kayu bayur dinilai sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatannya dan tahan terhadap serangan rayap.
  18. Ragunan, Saat Sultah Haji bermusuhan dengan ayahnya yaitu Sultan Ageng Tirtayasa pihak Belanda membantu Sultan Haji menghancurkan ayahnya sendiri. Maka dikirimlah Hendrik Lucaasz Cardell untuk menghancurkan Sultan Ageng. Karena berhasil dalam tugasnya kemudian panglima ini oleh Sultan Haji diberi gelar Wiraguna dan menetap di daerah ini, sehingga lama–kelamaan daerah ini disebut Ragunan.
  19. Grogol, nama Grogol diambil dari nama jebakan yang dibuat dari tombak yang dalam bahasa Sunda adalah Barogol. Saat itu wilayah ini masih berwujud hutan sehingga di tempat ini banyak diberi jebakan Garogol. Dari nama Garogol ini kemudian menjadi Grogol
  20. Rawamangun, nama jalan Rawamangun muncul saat Belanda menguasai Kota Batavia wilayah ini terdiri dari rawa–rawa yang luas. Kemudian ditimbun dengan tanah dan di atasnya didirikan banyak bangunan. Karena banyak rawa–rawa kemudian daerah ini disebut Rawamangun.
  21. Harmoni, nama Harmoni diambil dari Sosiestiet De Harmonie yaitu bangunan yang didirikan Belanda untuk pertemuan para sosialita dan penguasa Belanda. Gedung ini menjadi nama daerah tersebut karena di gedung ini banyak digunakan untuk mabuk–mabukan dan pesta minuman keras.Gedung Harmoni sebelum dirobohkan pada tahunn 1985
  22. Kemayoran, saat Belanda menguasai Batavia banyak orang Belanda maupun etnis Tionghoa diberi gelar Mayor karena jasa-jasanya. Mereka kemudian menetap di daerah ini sehingga disebut dengan Kemayoran. orang Belanda yang diberi mayor biasanya karena prestasi membasmi para pemberontak sedangkan etnis China karena keberhasilannya menghimpun pajak dari para pedagang.
  23. Paal Meriam, asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar Tahun 1813. Pada waktu itu Pasukan Altileri Meriam Inggris yang akan menyerang Batavia mengambil daerah itu untuk meletakkan meriam yang sudah siap di tembak kan.
    Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi Masyarakat sekitar dan menyebut nama daerah ini Paal Meriam (tempat meriam dipersiapkan).
  24. Cawang, nama jalan ini muncul ketika saat Belanda berkuasa ada seorang Letnan Melayu yang mengabdi pada Kompeni bernama Ence Awang. Letnan ini bersama Anak buahnya bermukim dikawasan yang tak jauh dari Jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang.
  25. Petamburan, penamaan nama Petamburan dilatar belakangi adanya suatu peristiwa yakni meninggalnya seorang penabuh tambur yang kemudian dimakamkan di bawah pohon jati. Sebenarnya nama Kampung iitu Jati Petamburan.
  26. Gondangdia, ada beberapa versi asal penamaan Gondangdia. Versi pertama, berasal dari nama pengembang yang ditunjuk Belanda untuk membangun kawasan Menteng, Yaitu NV Gondangdia.
    Versi kedua, berasal dari nama Kakek yang terkenal dan di segani di Kampung tersebut. Kakek tersebut sering disebut Kyai Kondang.
    Karena terkenal, nama Kyai itu sering disebut-sebut dan dikaitkan dengan nama daerah tersebut. Akhirnya nama tersebut dikenal Gondangdia (Kakek dia yang tersohor).
  27. Petojo, berasal dari nama seorang pemimpin asal Bugis, dimana pada tahun 1663 diberi Hak Pakai kawasan bernama Aru Petuju. Oleh orang Betawi, nama Petuju diucapkan Petojo.
  28. Pluit, sejarahnya sekitar tahun 1660. Di Pantai sebelah Timur Muara Kali Angke diletakkan sebuat Fluitschip (Kapal panjang ramping) bernama Het Witte Paert yang tidak layak melaut.
    Kapal ini digunakan menjadi kubu pertahanan untuk membantu Benteng Vijhoek yang terletak dipinggir Kali Grogol, sebelah timur Kali Angke, dalam menanggulangi serangan-serangan sporadic yang dilakukan oleh Pasukan bersenjata Kesultanan Banten.
    Kubu tersebut dikenal dengan sebutan De Fluit.
  29. Marunda , Marunda berasal dari kata merendah. Menurut cerita turun temurun, sifat penduduk asli disini memang baik Hati, menjauhi sifat sombong yang di larang Agama.
  30. Tanjung Priok, nama Tanjung Priok diambil dari nama seorang penyebar Agama Islam dari Palembang dengan sebutan Mbah Periuk yang membawa periuk nasi sisa perjalanan dari Palembang. (Cahyo Dharmodjo/Ogahdiem.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*